Profil Desa
Desa Oro-oro ombo adalah salah satu desa yang di Kecamatan Batu, Kota Batu yang berada di lereng Gunung Panderman, memiliki ketinggian 850 - 970 mdpl dan suhu rata-rata 240C – 260C, maka tepat menjadi destinasi wisata. Desa Oro-oro Ombo memiliki 1.381 ha yang sebagian besar lahan adalah lahan perhutau/hutan lindung 650ha, permukiman 363ha, pertanian lahan kering 196ha, dan sisanya lain-lain. Desa Oro-oro Ombo berpenduduk padat yaitu 14.982 jiwa dengan jumlah pengangguran yang besar yaitu 1.221 jiwa atau 8,15%. Struktur demografi menunjukkan bahwa proporsi terbesar penduduk adalah usia produktif umur 19 – 60 tahun sebanyak 8.090 jiwa (54,55). Mata pencaharian sebagian besar penduduk tidak memiliki pekerjaan yang tetap antara lain yaitu buruh 2.679 jiwa, wiraswasta/pedagang 2.181 jiwa, dan petani 1.743 jiwa dan lain-lain 541. Struktur demografi ini menunjukkan bahwa potensi modal sumber daya manusia untuk dikembangkan melalui berbagai pelatihan, khususnya dalam pengelolaan wisata desa, masih sangat tinggi. Desa Oro-Oro Ombo Tahun 1980 an masuk ke dalam daerah kuning yaitu memiliki tingkat kemiskinan yang sangat tinggi dan bahkan salah satu tertinggi di Jawa Timur. Banyaknya potensi destinasi belum mampu diolah dan dimanfaatkan oleh warga untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Pada Tahun 1997 seiring dengan naiknya Pak Wiweko sebagai Kepala Desa, geliat pembangunan desa sebagai salah satu Desa Wisata terus meningkat. Desa Oro-oro ombo memiliki posisi geografis dan topografis yang strategis di Kota Batu. Berada di sebelah selatan lereng Gunung Panderman Kota Batu, memberikan potensi view panorama Kota Batu dari atas gunung. Tak heran jika banyak destinasi wisata yang tersebar di desa ini. Ragam destinasi tersebut antara lain Take off paralayang; Sirkuit Motor Trail, bawah Rest Area Jalibar; Area Model Konservasi Edukasi (AMKE); Cafe Pinus; Cafe De-Kleine; Peternakan Kuda “Mega Star”; Batu Flower Garden; Coban Rais, dan yang sangat terkenal adalah Batu Night Spectacular (BNS). Jenis destinasi juga sangat beragam, mulai dari destinasi wisata alam sampai dengan kuliner dan buatan yang dikembangkan oleh swasta untuk melengkapi kawasan wisata Panderman. Sebagian besar destinasi wisata tersebut tersebar di lereng Gunung Panderman sebagai ikon Kota Batu. Sayangnya, destinasi tersebut tidak dikelola oleh Pemerintah Desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) nya, tetapi oleh perusahaan atau perorangan secara swasta, bekerjasama dengan Perhutani KPH Malang dan memperoleh izin usaha pariwisata dari Desa Oro-oro Ombo.
Desa Oro-oro Ombo menjadi salah satu desa pilar penting pengembangan kawasan wisata Lereng Panderman dengan tema “Great Experience of Panderman” oleh Pemerintah Kota Batu yang dimulai tahun 2020. Master plan ini melibatkan 3 desa yaitu Desa Pesanggrahan (sisi barat), Kelurahan Ngaglik, Desa Oro-Oro Ombo dan Desa Tlekung yang membentang di sepanjang lereng Gunung Panderman. Program prioritas yang sudah berjalan dalam mendukung ini adalah jalan tembus mulai dari Desa Toyomerto (arah barat) sampai ke Desa Tlekung, kerjasama dengan Perum Perhutani KPH Malang, dukungan sana bantuan program pengembangan infrastruktur ke desa, dan lain-lain. Desa Oro-Oro ombo paling banyak wilayahnya yang dilewati dalam pengembangan kawasan ini, sehingga memiliki peran yang sangat strategis. Dari jumlah destinasi wisata lereng Panderman sebanyak 19 destinasi, sebanyak 10 ada di wilayah desa ini, yaitu Take off paralayang; Sirkuit Motor Trail, Rest Area Jalibar; Area Model Konservasi Edukasi (AMKE); Cafe Pinus; Cafe De-Kleine; Peternakan Kuda “Mega Star”; Batu Flower Garden; Coban Rais, dan yang sangat terkenal adalah Batu Night Spectacular (BNS). Namun, sayangnya, destinasi tersebut tidak dikelola oleh Pemerintah Desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) nya, tetapi oleh perusahaan atau perorangan secara swasta, bekerjasama dengan Perhutani KPH Malang dan memperoleh izin usaha pariwisata dari Desa Oro-oro Ombo, sehingga kurang memberikan banyak dampak kesejahteraan bagi warga desa (Kota Batu, 2020).
Desa Oro-oro Ombo juga menjadi salah satu target stakeholders Pemerintah Kota Batu dalam pengembangan kawasan wisata Lereng Panderman dengan teman “Great Experience of Panderman”. Pemerintah Kota Batu sudah menyusun kajian dan master plan pengembangannya tahun 2020. Beberapa jalan tembus mulai dari Desa Toyomerto (arah barat) sampai ke Desa Tlekung sudah dibangun. Pengembangan kawasan tracking dan downhill sepeda motor trail dan sepeda gunung di lereng panderman mulai dikembangkan. Wisata Lereng Panderman dikembangkan dengan konsep wisata edukasi dan konservasi lingkungan yang harus melibatkan banyak stakeholders termasuk Pemerintah Desa Oro-oro Ombo. Ini mendorong Pemerintah Desa melakukan pengembangan ekonomi produktif masyarakat berbasis pada sektor pariwisata. Masyarakat didorong untuk ikut partisipasi dalam pengembangan pariwisata baik melalui pengembangan berbagai produk-produk oleh-oleh pendukung wisata, membuat homestay dan kini sudah mulai beranjak ke pengembangan paket-paket wisata bekerjasama dengan seluruh pengelola destinasi wisata.
Kepala Desa, Drs. Wiweko sudah berusaha mendorong Pengelola BUMDesa untuk mengelola dan mengkoordinir pengembangan paket wisata yang didukung dengan infrastruktur wisata berupa pembangunan rest area dan pemanfaatan tanah-tanah kas Desa Oro-oro Ombo, yang luas hampir 100ha dan tersebar di berbagai desa, untuk dibangun prasarana pendukung wisata dalam rangka menyongsong adanya prioritas pembangunan kawasan wisata Lereng Gunung Panderman ini. Akan tetapi, pengurus BUMDesa masih belum memiliki kemampuan untuk menangkap peluang ini dan sekaligus konsep teknis operasional pengembangan tersebut. Akhirnya, tim pengusul diundang oleh Kepala Desa untuk melakukan serangkaian rapat koordinasi. Rapat fokus pada diidentifikasi potensi dan strategi pemanfaatannya untuk menghasilkan keuntungan ekonomi.
Rapat-rapat koordinasi berhasil mengidentifikasi: 1) struktur demografi umur penduduk yang produktif dan masih menganggur, dengan hasil bahwa dari 54,4% umur produktif sebanyak 1.221 masih menganggur dan hanya bekerjasa serabutan seadanya; 2) identifikasi seluruh pimpinan pengelola destinasi wisata yang ada, hasilnya semua nama dan ijin usaha pariwisata berhasil dikumpulkan oleh tim sebanyak 17 pengelola destinasi wisata yang akan diajak kerjasama; 3) melakukan survei ke beberapa lokasi tanah kas desa dan rencana peruntukannya, hasilnya beberapa lokasi dapat menjadi lokasi strategis rest area bagi bus-bus pengunjung wisata (rombongan) dan beberapa dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata air oleh BUMDesa (yaitu Umbul Wening), ini segera dilakukan penyusunan master plan dan desain pengembangan destinasi wisata; 4) menggali potensi ekonomi wisata yang dapat dilakukan BUMDesa selain membangun rest area dan destinasi Tirta Wening, dengan potensi banyaknya destinasi wisata yang ada, hasilnya BUMDesa membentuk tim pemandu/pengelola wisata menjual paket-paket wisata bekerjasama dengan semua pengelola wisata di seluruh desa dengan harga yang kompetitif; 5) menyiapkan tempat akomodasi home stay di rumah-rumah penduduk yang mampu dan kemudian distandarisasi sebagai akomodasi rombongan wisatawan, sehingga harga terjangkau; dan 6) bagaimana strategi melakukan promosi paket-paket wisata desa.
Pembangunan Desa Oro-Oro Ombo terus dilakukan oleh Pemerintah Desa di bawah kepemimpinan Pak Wiweko bersama dengan seluruh perangkat desa. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan dalam pengembangan desa wisata adalah pembuatan film video profil desa, pembangunan Rest Area di Jalibar, pengembangan paket-paket wisata oleh BUMDes Penderman bersama pemuda penggerak wisata, penggalian produk-produk olahan khas Desa Oro-oro Ombo berbasis labu, sampai dengan penataan sistem keuangan BUMDes Panderman. Berkat kerja keras Pemerintah Desa dan didukung oleh seluruh warga desa, maka berbagai prestasi berhasil diraih oleh desa antara lain mengantarkan spot wisata Batu Flower Garden (BFG) sebagai pemanang lomba anugerah wisata Jawa Timur Tahun 2018 dan Tahun 2021 ini berhasil menyabet Juara Nasional 1 sebagai Desa dengan Indeks Desa Mandiri Tertinggi. Desa Oro-oro Ombo berhasil menjadi Desa Wisata Mandiri yang mampu mengentaskan kemiskinan warganya.
Desa